Setelah Video Panas Diduga Mirip Gisel, Nama Jessica Iskandar Kini Ramai Diperbincangkan

Belum selesai tersebarnya video panas yang menyeret nama artis Gisella Anastasia, kini nama Jessica Iskandar (Jedar) ramai diperbincangkan. Pada Minggu (8/11/2020) siang, Jedar menjadi trending topik di Twitter. Penyebabnya, disebut sebut tersebar video panas dimana pemerannya diduga mirip Jedar.

Namun, hingga saat ini tidak diketahui apakah video tersebut benar adanya. Belum juga ada tanggapan dari Jedar soal ini. Adapun Jedar sendiri saat ini sedang berada di Bali.

Dari sejumlah postingannya, Jedar memang diketahui tengah tinggal sementara di Bali. Pada postingan hari ini, Jedar mengunggah video tiktok dengan tiga pria bule. Semongko sis ah mantap.. setelah 598 x latihan #bali ," tulis Jedar di akun Instagramnya, @inijedar.

Atas beredarnya video panas yang disebut mirip dengan dirinya, Gisel menanggapi santai. Ketika ia mengetahui adanya video tersebut ia hanya meratap karena kejadian tahun lalu kembali terjadi. Saat dimintai tanggapannya, Giselle mengaku malas menanggapi pertanyaan orang orang, termasuk awak media yang seharian ini mencoba mengonfirmasi kabar tersebut.

"Tapi dari kalian dan teman teman kan nggak mungkin kalau aku gak jawab terus," ujarnya. Seperti warganet lainnya, Giselle juga mengetahui kabar tersebut tadi malam ketika video tersebut mulai beredar di sosial media Twitter. "Semalem, cuman yaa yaudah karena udah pernah kita hadapin aja, yang kemarin juga masih proses," kata dia.

Meski begitu, Gisella tetap tak senang karena adanya isu tersebut. Apalagi perkara tahun lalu masih diproses di kepolisian. "Kalau ditanya gimana ya pasti gak happy ya, apalagi ini bukan kali pertama banget jadi yaa yang kemarin aja masih proses. Ya udah lah jadi sedikit ini aja liburannya jadi kaget," terang Giselle.

Jagat maya akhir akhir ini diramaikan dengan viralnya video syur diduga artis Gisella Anastasia atau Gisel. Pengamat media sosial dan komunikasi, Yohanes Don Bosco Doho, mengingatkan agar masyarakat tidak ikut membagikan atau menyebarkan video tersebut. Dosen London School of Public Relation (LSPR) Jakarta tersebut mengingatkan ancaman Undang undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Don Bosco menyebut sebaiknya masyarakat tidak perlu mencari untuk memiliki video tersebut. "Cukup tahu dan biarkan menjadi penonton terakhir," imbuhnya. Ia menyebut, pihak berwajib bisa menelisik siapa saja yang menyebarkan video tersebut.

"Kalau video tersebut terlanjur masuk di gadget kita, biarlah video tersebut berhenti cukup di gadget kita saja." "Jangan disebarkan kemana mana lagi karena akan berpotensi terkena UU ITE," ungkapnya. Don Bosco menyebut kehidupan orang akan sangat dirugikan.

"Jangan kembali menyebarkan, karena akhirnya dapat merusak nama baik orang, merusak masa depan orang, dan merusak nasib orang," ungkapnya. Don Bosco juga mengungkapkan belum ada ahli yang menyatakan keaslian video tersebut. "Kita belum tahu apakah itu betul, karena belum ada pernyataan dari pakar telematika terkait orisinalitas video tersebut," ungkapnya.

Lebih lanjut, Don Bosco mengungkapkan jika memang video tersebut benar merupakan Gisel, ia menyebut perlu tahu siapa yang menyebarkan. "Apakah karena keteledoran sendiri atau orang yang memanfaatkan kondisi di air keruh," ungkapnya. "Kalau yang namanya penyebaran yang disengajakan, harusnya dihukum secara berat, karena kena UU ITE," ucapnya.

Don Bosco kemudian menyandingkan dengan kasus yang sempat menjerat vokalis band, Ariel. "Ariel tidak menyebarkan sendiri. Tapi dia terkena pasal kelalaian dan pembiaran terhadap properti apalagi koleksi pribadi yang tidak dijaga secara hati hati," ungkap Don Bosco. Adapun Don Bosco berharap agar polisi mengusut tuntas kasus ini.

"Polisi harus menyelidiki secara tuntas dan ditegakkan hukum seberat beratnya bagi siapapun penyebarnya," ungkapnya. Termasuk memberi hukuman bagi Gisel jika memang terbukti benar dirinya yang berada di dalam video tersebut dan terbukti lalai. "Termasuk Gisel sekalipun kalau ternyata terbukti lalai melindungi koleksi pribadinya sampai akhirnya tersebar," ungkapnya.

"Dia harus bertanggung jawab kepada semua pihak yang terpaksa berdosa karena menonton koleksi yang tidak patut seperti itu," imbuhnya. Kejadian ini, menurut Don Bosco, dapat menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. "Harus dijadikan sebagai pelajaran berharga bagi siapapun untuk berhati hati dalam membuat konten negatif yang dapat merusak moral publik," ungkapnya.

Sementara itu Don Bosco mengingatkan agar masyarakat Indonesia bijak dalam menggunakan sosial media. "Dalam urusan sosial media, batas antara ruang personal dengan ruang publik sangat tipis.," ungkapnya. Ia mengingatkan agar senantiasa menjunjung etika.

Sebab menurutnya, pelanggaran hukum biasanya diawali oleh pelanggaran etika. "Etika bersosial media dapat melindungi privacy pemiliknya." "Siapapun jika urusannya melanggar etika atau tidak, yang bertanggung jawab itu kita sendiri."

"Kalau digunakan untuk melanggar etika, akan melanggar hukum," ungkapnya. Ia menyebut jika sosial media dikelola secara baik akan menghasilkan citra yang baik pula bagi pemilik. Artikel ini merupakan bagian dari

KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.